Cerita Horor Cekam di Bali

sendaru12 0
cerita-horor-cekam-di-bali

Cerita Horor Cekam di Bali – Bali, gak mesti dijelaskan panjang lebar lagi jika pulau ini merupakan keliru satu tempat terindah di muka bumi, eksotis di beraneka sisi.
Tempat obyek paling diidamkan oleh banyak wisatawan, didalam dan luar negeri. Terkenal termasuk bersama dengan sebutan Pulau Dewata, tempatnya para Dewa.
Tapi gak dapat dipungkiri termasuk jika Bali memiliki banyak cerita mistisnya. Salah satunya adalah peristiwa yang dialami oleh keliru satu rekan kita selanjutnya ini.

cerita-horor-cekam-di-bali

Cerita Horor Cekam di Bali

ileniabazzacco.com – Aku Irene, tinggal dan bekerja di Jakarta, dulu mengalami peristiwa menyeramkan yang gak masuk di akal.
Pengalamanku ini berawal dikala bersama dengan dua rekan dekat berlibur ke Bali, gak manfaatkan pesawat, kita menentukan untuk mengendarai mobil, road trip istilahnya.
Aku, Bagus, dan Inda, kita bertiga sebetulnya telah merencanakan ini sejak jauhari, telah direncanakan matang-matang, hotel dan tempat obyek wisata mana yang bakal dikunjungi telah ditentukan, pokoknya amat excited menantikan ini semua terlaksana.
Ya sudah, di bulan Juli 2017 kita berlibur ke Bali, yeay!
Walaupun kala itu bukan pertama kalinya ke Bali, namun selalu saja kita stimulan dan penuh keceriaan, karena ke depannya bakal menemui tempat wisata eksotis, pantai, gunung, dan lainya. Perjalanan darat berasal dari Jakarta yang memakan kala memadai lama, gak termasuk memicu suka ria luntur.
Waktu itu hari Rabu, lebih kurang jam 12 siang kita telah sampai di Denpasar, di mana hotel tempat kita menginap nantinya berada.
Benar-benar perasaan yang mengasyikkan dikala telah amat sampai di Bali, yang sebelumnya kita cuma merindukan alamnya, budayanya, orang-orangnya, makanannya, semuanya.
Tentu saja, sebagai wisatawan, di manapun berada, kita bakal selalu menjunjung budaya dan orang-orangnya. Begitu termasuk Bali, yang amat kental bersama dengan budayanya, memiliki pembawaan kedaerahan yang amat kuat, kita amat menghormatinya.

Setibanya di Bali, yang kita cari pertama kali adalah makan siang, pasti saja yang diincar adalah makanan khas setempat.
Setelah makan, kita baru bakal menuju hotel untuk beristirahat sejenak.
Hotel tempat kita menginap ini letaknya gak di tengah kota, namun bukan yang di luar Denpasar juga. Sengaja gak melacak hotel mewah berbintang,
kami sengaja menginap di tempat yang simpel namun masih bagus dan layak, toh nantinya kita bakal lebih banyak di luar untuk jalan-jalan berasal dari pada berada di hotel, menjadi gak mesti bermewah-mewah.
Jam dua siang kita sampai di hotel.
Persis layaknya didalam bayangan, hotel ini amat menarik, jauh berasal dari kesan mewah namun bagus dan amat “Bali”, kamarnya berbentuk layaknya pondok-pondok kecil yang berdiri terpisah satu sama lain, namun letaknya masih berdekatan.
Tipikal bangunan yang ada di Bali, hotel ini termasuk sama, memiliki patung-patung khas Bali yang ditempatkan di banyak sudut, ukiran dan lukisannya termasuk amat mencerminkan Bali.
Kami makin senang memandang itu semua, disempurnakan termasuk lingkungannya amat asri, banyak pohon rindang berdiri di didalam wilayah hotel yang memadai besar ini. Nyaman, asri, dan indah.
Di sisa hari pertama, kita habiskan beristirahat, namun pada malam harinya nampak untuk melacak makan dan tempat hang out.
Baru keesokan harinya kita habiskan kala seharian untuk berwisata, jalan-jalan ke tempat menarik dan pasti termasuk ramai wisatawan.

Seperti telah banyak kita tahu, jika jalan-jalan di Bali kita bakal banyak memandang semacam sesajen kecil yang ditempatkan di depan toko atau bangunan lainnya, jika di depan toko yang letaknya di tepi jalan umumnya bakal ditempatkan di atas trotoar.
Sesajen ini biasa disebut bersama dengan canang, manfaatkan wadah terbuat berasal dari janur yang isinya umumnya adalah kembang Rampe, bunga Gumitir, Pacak Air, Jepun, dan jajanan bungkus kecil.
Nah, dikala tengah jalan-jalan ini kita termasuk memandang banyak canang, apa lagi di depan toko dan tempat tinggal makan, hampir pasti ada.
Di siang menjelang sore, dikala baru saja selesai makan di tempat Sanur, kita berlangsung kaki lagi menuju kendaraan.
Pada kala menuju mobil inilah berlangsung sesuatu, Bagus yang selalu berlangsung paling belakang secara gak sengaja menendang canang yang berada di depan keliru satu toko. Walhasil, canang itu terpental dan isinya berserakan semua.
“Lo gimana sih Gus? Berantakan tuh, jalan lihat-liat dong.” Inda ngomel memandang itu semua.
“Gw gak sengaja, gak keliatan.” Jawab Bagus.
“Buruan lo beresin.” Aku ikut menimpali.
“Iya, iya.” Jawab Bagus sambil berjongkok menghimpun lagi isi canang, lantas membereskannya.
Tapi gak lama, Bapak pemilik toko yang kemungkinan sejak tadi telah memandang tingkah laku Bagus, nampak menghampiri.
“Sudah, gak usah, biarkan saja.” Ucap Bapak itu ramah, sambil tersenyum.
“Maaf ya Pak, saya gak sengaja.” Kata Bagus lagi, lantas dia melanjutkan merapihkan canang.
Setelah selesai dan sekali lagi meminta maaf kepada Bapak pemilik toko, kita melanjutkan perjalanan menuju mobil.
“Lo ada-ada aja sih Gus, make nendang sesajen segala, hahahahaha.” Begitu kata Inda dikala kita telah berada didalam mobil, dia gak dapat menghambat tawa.
“Dibilang gw gak sengaja. Duuuh, semoga gak knapa-napa ya, gw was-was niihh.” Kata Bagus.
“Ya emang bakalan ada apa deh? Ya gak bakal ada apa-apa lah.” Aku bilang begitu, kendati ada sedikit perasaan was-was, entah apa penyebabnya.
Sorenya kita melanjutkan menuju satu tempat wisata, setelahnya bakal melacak makan malam di Denpasar.
Singkat cerita, malam menjelang, kita yang baru saja pulang berasal dari tempat wisata di tempat utara agak kemalaman didalam perjalanan lagi ke Denpasar, jam sembilan kita masih di jalan, karena itulah akhirnya memastikan makan malam di tengah perjalanan, di luar rencana.

Lalu kita berhenti di satu tempat tinggal makan khas Bali, lebih kurang masih satu jam jaraknya berasal dari Denpasar.
“Akhirnya, nemu restoran. Lapperr gw.” Bagus bilang begitu dikala kita turun berasal dari mobil.
Rumah makan ini gak besar, namun gak kecil juga, cuma ada satu bangunan yang berdiri di lahan luasnya.
Bangunan yang beberapa besar komponennya terbuat berasal dari bambu, amat artistik.
Di halaman cuma ada kendaraan kami, gak ada kendaraan lain, tandanya jika pengunjung di dalamnya termasuk kemungkinan kosong.
Benar, dikala telah berada di dalam, kita cuma memandang isinya cuma deretan meja dan kursi kosong, gak ada orang sama sekali. Gak kelihatan termasuk karyawan tempat tinggal makan ini, kosong.
“Ah sudahlah, duduk aja dulu yuk, nanti termasuk dateng Mas Mbak nya.” Begitu saya bilang, lantas menentukan keliru satu meja masih di dekat pintu.
Benar apa kubilang tadi, gak berapa lama lantas ada mas-mas berkunjung mendekat sambil tersenyum.
“Selamat datang, silakan menentukan menunya.” Begitu kata Mas itu sambil menyodorkan daftar menu.
Gak makan kala lama, kita yang telah kelaparan sejak didalam perjalanan tadi langsung memesan makan.
Kemudian, sambil tunggu makanan berkunjung kita lagi berbincang.
“Sepi amat ini resto, apa karena telah malem ya.” Begitu saya bilang.
“Iya, kosong gini gak ada orang tidak cuman kita. Semoga enak makanannya.” Bagus menimpali
“Kata siapa kosong, itu ada orang.” Tapi tiba-tiba Inda bilang begitu sambil agak berbisik, raut wajahnya menunjuk ke arah belakang tempat duduk saya dan Bagus.
Tentu saja, saya dan bagus langsung menoleh ke tempat di mana yang Inda maksud.
Benar loh, ternyata ada orang lain, ada yang tengah duduk sendirian di kursi yang letaknya hampir di pojokan.
Ada perempuan duduk seorang diri, namun di mejanya gak kelihatan ada piring dan gelas kotor sisa makanan, bersih.
Dia duduk diam sambil layaknya tengah membaca buku, menundukkan wajah. Pakaian perempuan itu terusan panjang berwarna putih corak.
“Aneh amat perempuan itu, sendiran, makan nggak minum nggak.” Bagus berbisik pelan.
“Yang memiliki resto ini kali.” Begitu kata Inda.

Aku gak menimpali apa-apa, saya malah berpikir keras kenapa tiba-tiba perempuan itu ada di belakang, padahal dikala berkunjung tadi jelas-jelas kita gak memandang ada orang sama sekali. Tapi entahlah..
Sekitar 30 menit kemudian, makanan datang. Sambil menyantap makanan, sesekali saya melirik ke belakang, perempuan itu masih ada, masih duduk di tempatnya.
Setelah kita selesai makan pun sama, dia masih ada, dan masih sendirian.
Tapi setelah itu kita larut didalam penuturan seru, lupa gak memperhatikannya lagi.
Sesudah amat selesai, Inda lantas membayar makanan ke kasir, kala saya dan Bagus berlangsung lagi menuju kendaraan.
“Serem amat ya perempuan tadi, duduk sendirian di pojokan, ngapain sih.” Kata bagus dikala telah duduk di balik kemudi.

“Iya ngapain ya. Eh tadi gw lupa liat lagi, masih ada gak sih dia?” Ucapku.
“Gak tau, gw termasuk gak liat lagi, lupa.”
Gak lama, Inda datang, lantas langsung masuk ke didalam mobil.
“Inda, lo liat perempuan itu gak sih? Masih ada gak dia? Kalo gw sama Irene kan gak liat lagi, lupa.” Tanya bagus ke Inda.

“Tau gak sih lo, perempuan tadi tiba-tiba telah gak ada, gak tau ke mana, agak serem termasuk sih. Trus gw nanya dong ke Mas kasirnya, siapa perempuan yang duduk sendirian di pojokan tadi.
Trus Mas kasir bilang gak ada siapa-siapa di didalam berasal dari tadi, cuma kita doang pengunjungnya, dia bilang gitu, serem gak sih. Ayok ah Gus, cabut ah, ngeri gw.” Begitu penjelasan Inda panjang lebar.
Bagus lantas cepat-cepat mengendarai mobil, meninggalkan restoran itu. Agak seram juga.
Singkat cerita, lebih kurang jam 1/2 sebelas kita sampai di hotel.

Oh iya, pondokan tempat kita menginap ini letaknya lebih kurang 50 mtr. berasal dari pintu masuk yang letaknya dekat parkiran, menjadi mesti sedikit berlangsung kaki untuk mencapainya.
Tapi, perjalanannya menyenangkan, kita menelusuri jalan setapak yang kanan kirinya banyak pepohonan dan lampu-lampu templok kecil, pokoknya indah dan gak membosankan.
Kamar kita yang berbentuk pondokan letaknya dekat bersama dengan kolam renang, malam itu pasti saja telah gak ada tamu yang berenang.

Kamar kita termasuk luas, dua tempat tidur besar menjadi tempat beristirahat yang nyaman. Aku bersama dengan Inda bersama dengan didalam satu tempat tidur, kala Bagus tidur di kasur yang satu lagi.
Ya sudah, karena seharian jalan-jalan berkeliling melelahkan, setelah mandi kita semua langsung naik tempat tidur dan mencoba untuk tidur.
Benar, setelah sedikit berbincang, kita langsung terlelap.
***
“Wah, Inda rajin sekali, shalat malam-malam begini.”
Keadaan masih gelap dikala saya bilang begitu didalam hati, memandang Inda bermukena tengah mendirikan shalat dekat tv.
Walaupun kamar didalam kondisi gelap, penerangan cuma bersumber berasal dari sinar lampu di luar, namun saya masih dapat memandang bersama dengan jelas jika Inda tengah shalat malam.
Lalu saya menggapai ponsel yang ada di atas meja, berniat untuk memandang jam, ternyata masih pukul satu dini hari, setelah itu saya meletakkannya lagi ke tempat semula.
Sekilas saya masih memandang Inda berdiri shalat.
Lalu tanpa beban saya mengubah posisi tidur, yang tadinya menghadap tempat tidur Bagus di sebelah kanan, menjadi menghadap kiri, menghadap ke tempat Inda yang tengah berbaring.

Inda tengah berbaring? Hah?
Iya, ternyata ada Inda di sebelahku! tengah tidur juga!
Lalu siapa yang tengah shalat?
Kemudian, perlahan saya lagi menoleh ke depan tv, ke tempat di mana tadi saya memandang “Inda” tengah shalat.
Sosok yang saya kira tengah shalat itu masih ada, masih berdiri layaknya tadi saya pertama kali melihatnya.
Ketika telah saya menyimak lebih seksama lagi, sosok yang tadi saya pikir adalah Inda ternyata bukan tengah shalat, namun tengah berdiri diam didalam gelap bersama dengan rambut tergerai panjang. Dan itu bukan Inda, karena Inda tengah tidur di sebelahku.
Dalam remangnya cahaya, saya masih dapat memandang jika sosok itu memakai pakaian terusan warna putih bercorak, pakaiannya sama bersama dengan pakaian perempuan yang kita memandang di restoran kala makan malam tadi.
Belakangan saya termasuk baru sadar, jika ternyata sosok seram itu bukan berdiri membelakangi, namun malah menghadap aku. Sepertinya, sepanjang beberapa kala kita saling berpadangan.
Aku tercengang didalam diam, tenggorokan tercekat gak dapat berkata-kata.
Aku merinding ketakutan, ada kuntilanak berdiri di didalam kamar.
Gak ada yang dapat dilakukan, saya cuma dapat menarik selimut perlahan, untuk menutup semua badan sampai kepala, termasik inda saya selimuti juga.
Aku gak berani memandang sosok seram itu lagi.
Tiba-tiba, Inda yang sejak tadi tidur menghadap dinding, perlahan membalikkan tubuhnya, ternyata dia termasuk gak tidur. Kemudian di didalam selimut kita saling berhadapan.
“Itu siapa di depan tv?” Tanyaku amat pelan.
“Gak tahu, serem Ren, gw takut, berasal dari jam 12 tadi dia berdiri di situ.” Begitu jawab Inda.
Kemudian kita cuma berdiam diri ketakutan, hampir menangis.
Hingga beberapa menit selanjutnya terdengar tawa cekikikan, suaranya keras, kita percaya sosok seram itu yang tertawa.
“Hihihihiih..” Begitu suaranya.
Tawa cekikikan itu terdengar dua kali, setalah itu gak lama lantas kita mendengar nada pintu kamar terbuka, lantas menutup lagi bersama dengan bantingan keras, “Braakk!!”.
Kemudian kondisi lagi hening..
Gak lama setelahnya, kita memberanikan diri nampak berasal dari selimut untuk memandang situasi. Perempuan itu telah gak ada lagi.
Aku lantas lari ke pintu lantas menguncinya. Kemudian menyalakan lampu kamar.
Malam itu, saya dan Inda gak tidur sampai pagi menjelang.
***
Hai, balik lagi ke gw ya, Brii..
Sebenarnya masih banyak kisah seram yang tempat kejadiannya di pulau Dewata, namun karena halangan kala menjadi kita lanjut minggu depan aja ya.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *