Cerita Misteri Penjaga Villa di Puncak Bogor

sendaru12 0
cerita-misteri-penjaga-villa-di-puncak-bogor

Cerita Misteri Penjaga Villa di Puncak Bogor – Nyaris setiap pekerjaan memiliki segi misteri, berbalut seram menguji hati dan nyali. Termasuk penjaga villa, bagaimanapun keadaannya mereka perlu selamanya tetap menjalankan tugas. Rahmat, penjaga villa di puncak Bogor, akan menceritakan kisah seramnya di sini,

Cerita Misteri Penjaga Villa di Puncak Bogor

cerita-misteri-penjaga-villa-di-puncak-bogor

ileniabazzacco.com – Selesai udah prosesi penguburan Pak Hendra, satu persatu pelayat meninggalkan pusara.
Areal pemakaman yang tadinya ramai, berangsur sepi. Begitu juga bersama dengan aku, pada akhirnya melangkah pergi ketika hanya tinggal beberapa orang saja.
Suasana acara pemakaman selamanya begini, hawanya sedih, rasa kehilangan mendominasi. judibolalive99 Aku terbilang terlalu jarang menghadiri prosesi pemakaman, terkecuali bukan keluarga atau kerabat dekat aku gak dulu menghadirinya.
Tapi ini Pak Hendra, bukan keluarga, bukan kerabat dekat juga, tetapi aku perlu menghadiri pemakamannya.
Hampir sepanjang tiga bulan terakhir, tiga bulan paling akhir hidupnya, Pak Hendra mampu dibilang adalah mentorku.
Mentor? Iya Mentor.
***
Aku Rahmat, usiaku tetap 22 tahun ketika semua moment di Villa Puncak ini terjadi pada tahun 2008. Lahir dan besar di Cibinong Bogor, setamat SMU aku gak melanjutkan sekolah lagi, lebih pilih untuk bekerja meskipun tetap serabutan.
Singkatnya, pada tahun 2008 aku menganggur memadai lama, gara-gara sebenarnya belum tersedia pekerjaan yang butuh tenagaku.Di tengah kejenuhan melanda, datanglah kabar baik. Salah satu tetangga, menawarkanku untuk bekerja sebagai penjaga Villa di kawasan Puncak Bogor.
“Jadi, Villa ini memiliki bos aku Mat. Dia orang kaya banget, tempat tinggal dan villanya di mana-mana, banyaklah pokoknya. Nah, salah satunya ya di puncak itu, di daerah Cibogo. Villa ini disewakan untuk lazim juga, sengaja begitu supaya gak terlalu kosong gara-gara terlalu jarang dikunjungi.”
Begitu penjelasan awal Pak Iwan tetanggaku.
“Sebenarnya villa itu udah tersedia yang jaga, Bapak dan Ibu yang udah berumur, suami istri. Tapi sebulan yang selanjutnya istrinya meninggal, jadi aja tinggal si papa yang menanti dan merawat villa sendirian.” Lanjut Pak Iwan.
“Bapak penunggu villa ini udah tua dan sakit-sakitan, jadi sepertinya anda akan dipersiapkan untuk menggantikannya terkecuali dia pensiun nanti.” Pak Iwan tetap melanjutkan.
Kata Pak Iwan juga, pemilik villa sangatlah baik orangnya, dia selamanya menekankan kesejahteraan orang-orang yang bekerja dengannya.
“Gimana? Kamu sudi gak? Kan gak terlalu jauh juga berasal dari rumah, jadi mampu pulang kapan aja. Kalo sudi biar aku bilang ke Pak Daniel. Mau?” Pak Daniel adalah bos Pak Iwan.
Aku yang udah terlalu lama mengganggur, gak pikir panjang lagi, segera mengangguk setuju.
Beberapa hari sehabis itu Pak Iwan berkunjung mengabarkan lagi, dia bilang bosnya setuju untuk mempekerjakanku atas rekomendasi baik darinya.
Ya sudah, aku makin senang bersama dengan pekerjaan ini sehabis mendengar upah yang akan aku terima setiap bulannya, nominalnya memadai besar buatku, ditambah bersama dengan tunjangan makan dan daerah tinggal sepanjang bekerja nantinya.
Aku ingat, pas itu bulan Juni tahun 2008, aku mulai bekerja sebagai penjaga villa di Cibogo kawasan puncak Bogor.
***
Jalan masuk menuju villa ini gak susah. Kalau berasal dari arah bogor, kurang lebih 10 menit berasal dari gadog tersedia pom bensin di sebelah kiri, di situ tersedia belokan ke kanan, berasal dari belokan itu kurang lebih 30 menit lantas udah sampai.
Ketika pertama kalinya menginjakkan kaki di villa, aku segera memandang sekitar, merekam setiap sudutnya di memori kepala. Gerbang depan tinggi dan besar, menengahi jalur lazim bersama dengan pekarangan bagian depan villa.
Halamannya terlalu luas, hijau rerumputan mendominasi pemandangan. Beberapa pohon besar tumbuh rindang di sekeliling bangunan besar yang berdiri di tengah-tengah lahan luas ini. Aku yakin terkecuali bangunan besar itu adalah villa-nya.
Villa besar berlantai dua, bentuk bangunanya jenis lama, sepertinya usianya juga udah tua, tetapi tetap nampak terlalu terawat dan bersih.
Di sebelah kanan tersedia bangunan layaknya bungalow yang bentuknya memanjang, beratap tanpa dinding sekeliling, sepertinya diperuntukkan untuk kesibukan luar ruang.
Ketika tengah asik menjelajah pemandangan, tiba-tiba pintu besar bangunan utama terbuka, selanjutnya nampak seorang papa berasal dari dalam.
“Rahmat ya? Sini masuk.” Ucap Bapak itu sambil tersenyum.
“Iya Pak,” Aku menjawab sumringah.
Seorang papa betubuh tinggi kurus, berkaca mata, hampir semua rambutnya tertutup uban, mengenakan kemeja lengan pendek, celana panjang hitam.
Setelah itu kita berkenalan, papa yang terlalu ramah ini bernama Pak Hendra, umurnya 69 tahun. Aku diajaknya berkeliling, bersama dengan sabar beliau menyebutkan semua tentang villa ini dan segala isinya.
Bangunan utama, villa dua lantai, di lantai basic tersedia ruang tengah besar, tiga kamar tidur, dua kamar mandi, tersedia dapur di belakang.
Lantai dua, tersedia tiga kamar tidur juga, dua kamar mandi, ruang enjoy keluarga, dan beranda besar memanjang berasal dari kiri ke kanan, beranda ini menghadap panorama pegunungan puncak yang terlalu indah.
Secara keseluruhan, benar tebakanku di awal tadi, villa ini terlalu bagus dan besar. Yang paling mencolok, kebersihan villa dan lingkungannya membuatku terkesan, berasal dari sini tandanya terkecuali Pak Hendra orang yang terlalu rajin.
Di belakang Villa, tersedia bangunan berukuran jauh lebih kecil berasal dari bangunan utama, tetapi gak terlalu kecil juga.

Cerita Misteri Penjaga Villa di Puncak Bogor

“Nah, di tempat tinggal itu nanti anda tinggal. Kamar anda udah aku siapkan, anda tinggal masuk aja, hehe.” Begitu kata Pak Hendra sambil menunjuk ke tempat tinggal itu.
Lalu kita melangkah ke sana dan memasukinya.
Rumah yang ukuran bangunannya hampir serupa bersama dengan tempat tinggal orang tuaku di Cibinong. Ada ruang tengah, dua kamar, dapur, dan satu kamar mandi. Rumah yang terlalu nyaman buatku untuk tinggal.
“Kamu beberes aja dulu, aku menanti di bungalow ya, kita ngobrol kembali di sana, hehe.” Ucap Pak Hendra.
Aku yang baru hanya mempunyai sedikit pakaian, jadi gak terlalu lama untuk beberes, sehabis itu nampak tempat tinggal menuju bungalow, daerah Pak Hendra duduk menunggu.
“Jadi, nanti setiap pagi kita membersihkan semua daerah ini, luar dalam villa, halaman depan belakang, semuanya.” Begitu kata Pak Hendra ketika kita lanjut berbincang.
Intinya, tugas kita adalah merawat villa supaya selamanya bersih, nyaman dan aman. Kami juga yang akan melayani serta memenuhi semua keperluan para tamu penyewa villa, kata Pak Hendra penyewa villa paling banyak berasal dari kalangan keluarga besar dan grup kecil kantor atau perusahaan.
Sebisa kemungkinan kita akan memenuhi semua keperluan dan keperluan para tamu penyewa yang menginap dan mengadakan acara di sini.
Kurang lebih begitulah tugasku.
Setelah selesai menerangkan tugas-tugas dan lainnya, lantas Pak Hendra mulai bercerita sedikit tentang kehidupan pribadinya.
Sepanjang siang hingga sore kita hanya duduk berbincang, Pak Hendra bercerita sambil tetap menghisap rokok, udah berbatang-batang rokok dia habiskan sejak awal pertemuan kita tadi, terlalu nampak terkecuali beliau seorang perokok berat.
Sudah hampir 30 tahun lamanya Pak Hendra bekerja di villa ini, sejak orang tua Pak Daniel sang pemilik villa tetap hidup.
30 tahun bekerja didampingi oleh istri tercinta, mereka tinggal di tempat tinggal kecil di belakang villa itu tadi. Berdua berdampingan merawat dan merawat villa.
Ibu Rina, itulah nama berasal dari almarhumah istri Pak Hendra.
“Tapi sebenarnya udah garisNya, istri aku meninggal baru satu bulan yang selanjutnya gara-gara sakit keras yang udah dia idap bertahun-tahun lamanya.” Begitu kata Pak hendra bersama dengan tatapan kosong, dibarengi bersama dengan hisapan panjang batang rokok di tangan.
Raut sedih tetap tergambar jelas di garis wajah tua dan lelahnya.
Kemudian Pak Hendra mengeluarkan dompet, selanjutnya mengeluarkan selembar foto lusuh.
“Ini Istri saya, hehe.” Begitu kata Pak Hendra sambil memperlihatkan poto itu.
Cukup banyak yang beliau ceritakan tentang istrinya, tergambar jelas betapa mereka saling mencintai dan menyayangi, hingga maut memisahkan.
Aku hanya diam dan tetap mendengarkan.
Hari itu juga aku mampu menebak terkecuali Pak Hendra nampak gak sehat, dia kerap batuk-batuk sambil memegang dadanya.
“Gak apa-apa, udah biasa, hehe.” Begitu katanya ketika aku menanyakan tentang hal itu.
Ya sudahlah, aku hanya mampu merekomendasikan untuk kurangi rokoknya.
***
Singkat kata, mulailah hari-hariku bekerja di villa itu.
Rutinitas setiap pagi, Pak Hendra selamanya mengetuk pintu kamar membangunku untuk sholat subuh. Setelah beribadah, kita segera bekerja.
Pekerjaan pertama adalah menyapu semua halaman, banyak dedaunan kering berjatuhan berasal dari pohon besar yang ada, lantas membersihkan luar dan dalam villa. Selalu layaknya itu rutinitasnya.
Satu minggu..
Dua minggu,
Satu bulan..
Dua bulan berlalu, gak terasa.
Aku udah mulai nyaman dan betah tinggal dan bekerja di villa ini. Pak Hendra terlalu orang yang baik, serupa sekali gak dulu marah meskipun beberapa kali aku lalai dalam bekerja.i bersama dengan candaan.
Kami makin akrab, percakapan udah kerap diselingi bersama dengan candaan.
Tapi ya itu, makin hari aku makin risau bersama dengan kebugaran pak Hendra. Batuknya nampak makin parah, beberapa kali beliau minta ijin untuk istirahat di tempat tinggal saja gara-gara badannya lemas.
Benar saja, sejalan berjalannya waktu, kebugaran Pak Hendra makin menurun. Hingga pada akhirnya dia perlu dirawat di tempat tinggal sakit gara-gara sesak napas.
Akhirnya Tuhan memiliki kehendak, awal bulan November 2008 Pak Hendra menghembuskan nafas paling akhir di tempat tinggal sakit.
***
Sepeninggal Pak Hendra, aku sendirian tinggal di villa, aku sendirian merawat dan merawat villa.
Gak mampu dipungkiri terkecuali aku terlalu terpukul bersama dengan meninggalnya Pak Hendra, ditinggal sendiran ketika udah mulai nyaman bekerja berdampingan dengannya, ketika kita udah makin dekat dan akrab.
Tapi roda hidup perlu tetap berputar, aku perlu tetap berjalan.
Pemilik villa bilang, dia akan melacak satu orang pekerja kembali untuk mengambil alih posisi Pak Hendra, jadi aku gak akan dibiarkan lama-lama kerja sendirian. Tapi, sambil menanti orang baru datang, aku terpaksa perlu bekerja sendiran, perlu tinggal di villa sendirian.
Eh bentar, tinggal dan kerja di Villa sendirian? Hmmm, ternyata gak juga.
Kenapa begitu? Karena aku kerap merasakan terkecuali almarhum Pak Hendra dan Istrinya tetap tersedia di sini, tetap di villa ini.
Dalam artian sesungguhnya, aku mulai terkecuali mereka tetap tinggal di sini..
***
Tok, tok, tok..
“Iya Pak,”
Aku menjawab ketukan di pintu kamar, tetap terlalu mengantuk gara-gara tidak cukup tidur malam sebelumnya selanjutnya aku menjawab “Iya pak.”
Mengucek-ngucek mata sebentar, melirik jam dinding, udah hampir jam lima subuh, sebenarnya udah waktunya bangun dan sholat.
Beranjak berasal dari daerah tidur selanjutnya aku terjadi menuju pintu untuk nampak kamar.
Setelah pintu kamar udah terbuka, aku mampu memandang isikan ruang tengah, di situ Pak Hendra tengah berdiri melakukan sholat subuh.
Seperti biasa, dia mengenakan pakaian koko kesayangannya dan sarung berwarna gelap lengkap bersama dengan kopiah putih di kepala.
“Ah pak Hendra udah mulai duluan ternyata.” Begitu pikirku dalam hati.
Aku segera buru-buru ke belakang untuk berwudhu.
Setelah selesai aku segera melangkahkan kaki menuju ruang tengah, bersama dengan niat menyusul Pak Hendra yang udah duluan sholat.
Tapi sesampainya di ruang tengah, aku terheran-heran, gara-gara gak memandang Pak Hendra kembali di sana.
Ke mana beliau? Apakah udah selesai sholatnya?.
DEG! Jantungku serasa berhenti..
Detik selanjutnya aku terhenyak kaget, hampir menangis ketika pada akhirnya tersadar, aku baru ingat terkecuali Pak Hendra udah meninggal sehari sebelumnya, dan aku menghadiri pemakamanya kemarin.
Kemudian, dalam sholat subuh itu, aku menghindar tangis sedih. Sendirian di ruma, aku tetap merasakan kehadiran almarhum.
Itulah perihal aneh yang aku alami, di hari pertama sehabis Pak Hendra meninggal.
***
Hari-hari berikutnya, beberapa kali aku mengalami perihal janggal dan menyeramkan.
Salah satunya perihal selanjutnya ini:
Kegiatan teratur setiap hari yang aku melakukan adalah membersihkan villa, sehabis tersedia tamu ataupun gak ada. Aku menyapu dan mengepel lantai, membersihkan kamar mandi, menyeka debu, dan lain sebagainya.
Suatu hari, belum lama berasal dari meninggalnya Pak Hendra, aku tengah membersihkan villa di lantai dua.
Memang kebanyakan layaknya itu, aku membersihkan lantai dua lebih-lebih dahulu, sehabis selesai baru membersihkan lantai satu.
Posisi villa yang jauh berasal dari jalur lazim dan keramaian, menjadikannya terlalu sepi meskipun di siang hari. Aku yang tengah membersihkan lantai dua, hampir mampu mendengar suara apa aja meskipun samar.
Nah, aku segera menghentikan kesibukan ketika tersedia suara berasal dari lantai bawah.
Jelas terdengar terkecuali salah satu keran di kamar mandi bawah tiba-tiba hidup, suara airnya kedengaran mengocor deras jatuh ke dalam ember.
Seperti tersedia yang tengah menampung air di ember. Siapa? Ya gak tahu, gara-gara mampu dipastikan terkecuali aku tengah sendirian di dalam villa ini.
Beberapa pas lantas keran itu mati, sepertinya ember udah penuh.
Aku tetap diam berdiri pada posisi awal bersama dengan tangan tetap memegang sapu, terbengong-bengong coba mencerna apa yang tengah terjadi di lantai bawah.
Lalu terdengar suara langkah kaki, kaki yang melangkah di atas ubin. Samar, tetapi aku tetap mampu mendengarnya.
Itu siapa? makin penasaran.
Aku yang tengah berada dekat bersama dengan pintu kaca, melirik ke luar. Dari kajauhan, nampak terkecuali pintu gerbang dalam situasi tertutup, gak tersedia kendaraan yang parkir juga, jadi seharusnya gak tersedia siapa-siapa, selanjutnya siapa yang tengah berada di bawah?.
Suara-suara tetap saja terdengar, kadang samar, kadang jelas, yang pasti tengah tersedia “kegiatan”.
Suara cipratan air yang disiram ke lantai, selanjutnya suara kain pel yang bergesekan bersama dengan ubin, sepenuhnya aku dengar, layaknya tersedia yang tengah mengepel lantai bawah..
Aku yang sejak tadi berdiri diam, pada akhirnya memberanikan diri untuk melangkah menuju tangga. Di ujung atas tangga, perlahan aku memaksa untuk mengintip ke bawah.
Awalnya hanya nampak beberapa kecil saja, itu gara-gara aku tetap ragu, perasaan ini campur aduk pada was-was, takut, dan penasaran.
Gak tersedia siapa-siapa, aku gak memandang apa-apa.
Lalu berubah posisi, tetap di ujung atas tangga, aku melacak spot yang sangat mungkin aku mampu memandang bersama dengan lebih jelas dan luas lagi. Tetap, aku tetap belum memandang apa-apa, gak tersedia siapa-siapa di lantai bawah.
Semakin penasaran dan makin berani, lantas aku melangkah menuruni beberapa anak tangga.
Dari sinilah pada akhirnya aku memandang sesuatu, aku memandang seseorang..
Aku menghindar napas, ketakutan..
Aku memandang Pak Hendra tengah mengepel lantai bawah bagian belakang, dia terjadi mundur membelakangi aku yang diam berdiri di ujung atas tangga.
Dia mengenakan kemeja lengan pendek yang biasa dipakai semasa hidupnya, tetap melangkah mundur perlahan sambil ke dua tangan memegang gagang kain pel.
Aku tetap terpana memandang panorama itu, sampai-sampai gak jelas terkecuali sebenarnya tersedia yang tengah mencermati aku.
Iya, ternyata tersedia sosok lain yang tengah mencermati aku.
Di sebelah meja makan, depan lemari, tersedia perempuan tua tengah berdiri diam, menghadap ke arahku.
Aku yang pada akhirnya jelas terkecuali tersedia sosok lain selain Pak Hendra, makin ketakutan, gara-gara aku kenal bersama dengan sosok perempuan itu.
Aku percaya terkecuali dia adalah Bu Rina, istri Pak Hendro.
Bu Rina berdiri diam mengenakan pakaian terusan berwarna gelap, rambutnya diikat sanggul.
Perlahan dia tersenyum ke arahku, senyum ramah, selanjutnya aku membalas senyumnya. Sementara Pak Hendra tetap tetap mengepel lantai, posisinya tetap membelakangiku.
Cukup lama aku diam memperhatikan, hingga pada akhirnya tersadar terkecuali dua orang itu udah meninggal.
Memaksa kaki melangkah mundur, aku kembai naik ke lantai dua.
Kemudian, di beranda depan aku duduk melamun, ketakutan, mengayalkan perihal seram yang baru saja aku alami.
***
Satu bulan sehabis meninggalnya Pak Hendra, aku kedatangan tamu seorang pemuda yang usianya serupa denganku.
Dia bilang, dia diterima kerja di sini, membantuku merawat dan merawat villa. Sebut saja namanya Roni, dia warga Bogor juga, serupa denganku.
Singkat kata, pada akhirnya aku gak sendirian lagi, udah tersedia Roni yang membantu.
Selama beberapa hari kerja, aku udah mampu memandang terkecuali Roni terlalu rajin, mengasyikkan juga, sedap untuk dijadikan teman ngobrol.
Aku yang udah sebulan sendirian di sini jadi memadai senang bersama dengan kehadiran teman kerja yang baru.
Tapi sayangnya, Roni bekerja hanya kurang lebih satu minggu, tiba-tiba meminta ijin untuk berhenti bekerja. Gak mampu dirayu lagi, dia bersikukuh untuk berhenti.
Ya sudah, aku gak mampu memaksa. Tapi sebelum akan pergi, aku perlu jelas apa alasannya, apa yang sebabkan dia pingin berhenti.
“Saya gak kuat mat euy, villa ini banyak hantunya, sieun ah.” (Sieun = takut). Begitu katanya.
“Banyak hantunya gimana? Emang anda ngeliat apa?” Tanyaku penasaran.
Memang, aku belum dulu bercerita kepada Roni tentang kisah villa ini sebelum akan dia datang, belum cerita tentang Pak Hendra dan istrinya, Khawatir dia jadi kekuatiran nantinya. Makanya Roni gak jelas apa-apa.
Lalu dia melanjutkan ceritanya.
Dia bilang, dia dulu memandang tersedia dua orang tengah sholat di ruang tengah di daerah tinggal kami, tengah malam, ketika Roni menghendaki ke kamar mandi.
Dua orang itu laki-laki dan perempuan, yang lelaki berdiri di depan sebagai imam, yang perempuan makmum di belakang.
Roni percaya terkecuali mereka bukan orang, makanya dia terlalu ketakutan, gak berani ke luar kamar hingga pagi menjelang.
Berikutnya, perihal seram ketika dia tengah menyapu villa di lantai satu.
Ketika tengah disiplin menyapu lantai, Roni kaget gara-gara mendengar tersedia suara cekikikan, suara perempuan tertawa. Sontak dia segera memandang ke arah sumber suara, yakni kamar tengah yang kebetulan pintunya terbuka lebar.
Awalnya Roni terdiam terpana, layaknya terhipnotis, gara-gara memandang panorama mengerikan di dalam kamar.
Ada seorang nenek yang tengah duduk di atas daerah tidur, rambut putihnya tergerai panjang, memakai pakaian terusan berwarna gelap.
Sosok nenek itu duduk menatap Roni yang tengah berdiri gak jauh, senyum mengembang di wajah pucatnya, kurang lebih ke dua mata berwarna gelap, sungguh mengerikan penampakannya.
Hanya beberapa detik Roni memandang nenek itu, selanjutnya dia terbirit-birit lari ke luar villa.
Peristiwa yang jadi pemicu dan makin membulatkan niat Roni untuk berhenti adalah di malam paling akhir dia tidur di kamarnya.
Seperti biasa, sehabis seharian bekerja malamnya kita berbincang sambil melihat tv di ruang tengah di tempat tinggal kecil daerah tinggal kami.
Seperti malam-malam sebelumnya, kurang lebih jam 10 malam rasa kantuk sebabkan kita perlu tidur di kamar masing-masing, aku di kamar depan pas Roni di kamar belakang.
Roni bilang malam itu dia segera tidur, lelap di alam mimpi.
Tapi, menjelang jam dua dini hari Roni terbangun gara-gara mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
Suara ketukan yang terdengar beberapa kali. Roni pikir itu aku, makanya dia segera menjawab, “Iya Mat, sebentar.” Lalu dia terjadi menuju pintu untuk membukanya.
Betapa terkejutnya dia, ternyata bukan aku yang tengah berdiri di depan pintu, tetapi tersedia sosok papa tua yang dia serupa sekali gak mengenalnya.
Bapak itu hanya diam berdiri menatap Roni, wajah tanpa ekspresinya jelas nampak di keremangan cahaya.
Ketakutan yang tetap memenuhi isikan kepala, makin membuncah ketika Roni tiba-tiba memandang tersedia sosok lainnya yang nampak berasal dari bagian belakang rumah.
Ada sosok ibu tua bersama dengan rambut panjangnya, terjadi mendekati Roni yang tetap berhadapan bersama dengan sosok papa tua di depan pintu.
Ibu tua itu pada akhirnya berhenti dan berdiri pas di belakang si papa tua.
Mereka berdua berdiri menatap Roni yang tetap saja diam dalam belenggu cekam ketakutan.
Wajah mereka pucat pasi tanpa ekspresi.
Tapi lambat laun, perlahan mereka mulai tersenyum. Mereka tersenyum menatap Roni bersama dengan wajah yang sungguh menakutkan.
Entah berkunjung berasal dari mana, pada akhirnya Roni memiliki kemampuan untuk menutup pintu kamar. Membiarkan dua sosok menyeramkan itu selamanya di ruang tengah.
Sambil menangis pelan, Roni duduk kekuatiran di sudut kamar.
Berikutnya, suara ketukan pintu tetap sesekali terdengar, itu sebabnya Roni gak mampu terlelap hingga pagi menjelang.
Esok paginya, dia segera membereskan barang-barang, selanjutnya bilang kepadaku terkecuali menghendaki berhenti dan pulang hari itu juga.
Aku mampu terima dan jelas alasan yang dikatakannya, gara-gara kamar yang Roni menempati sebenarnya dulunya adalah kamar punya almarhum Pak Hendra dan Almarhumah istrinya.
***
Begitulah beberapa kisah yang aku alami sepanjang bekerja di villa ini.
Banyak juga penyewa villa yang memiliki cerita seram ketika menginap di sini.
Sekadar info, aku tetap bekerja di villa ini hingga sekarang.
Akan terlalu senang terkecuali tersedia teman-teman yang sudi mempunyai keluarga besar atau bersama dengan teman kantor untuk menginap di sini, harga gak terlalu mahal, fasilitas lengkap.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *